Blog go blog!!
Worldly Mystery
Jumat, 12 November 2010
BERMUDA
Apa persamaan antara segitiga bermuda dengan fenomena UFO? Segitiga Bermuda dikenal sebagai kawasan berbahaya, karena banyak kapal, pesawat maupun orang yang hilang di daerah itu dan tidak pernah diketahui kemana mereka pergi. Dalam fenomena UFO ada peristiwa penculikan manusia dan hewan walau kemudian dilepaskan kembali namun ada beberapa kasus orang karena penculikan UFO dan tidak pernah terdengar lagi. Tampaknya ada beberapa kesamaan tentang dari dua fenomena yang menakjubkan ini.
Meskipun menarik untuk berpikir bahwa segitiga adalah sebuah misteri yang tidak terpecahkan sama halnya dengan UFO, Anda mungkin masih harus mempertimbangkan kemungkinan bahwa segitiga dan UFO adalah peristiwa yang sama walaupun berbeda tempat dan kondisi. Kapal, perahu dan pesawat yang masuk ke Segitiga Bermuda tidak pernah keluar. Ada beberapa kesamaan jelas antara keduanya. Namun benarkah Segitiga Bermuda adalah asal muasal UFO?
Penampakan UFO tetap dilaporkan, tapi anda mungkin tidak pernah mendengar tentang penampakan dalam segitiga bermuda. Jika Anda membaca beberapa laporan dengan lebih rinci, Ada sebagian penampakan dan menghilangnya UFO justri berasal dari segitiga Bermuda. Bisakah kemungkinan bahwa Segitiga Bermuda memiliki beberapa koneksi ke penampakan UFO yang kita lihat setiap hari. Walaupun ini adalah spekulasi, kita harus berpikir serius tentang hal ini sebelum membuang berbagai kemungkinan yang mustahil. Apakah ada jawaban lainnya atas penghilangan UFO dalam segitiga bermuda?
Laporan menghilangnya penampakan UFO di kawasan Segitiga Bermuda berasal dari seorang pilot dan seorang penumpang yang masih berstatus pelajar. Ketika itu pesawat sengaja terbang agak menghindari kawasan segitiga Bermuda yang terkenal mengerikan itu. Tiba-tiba mereka melihat Objek terbang berbentuk bulat dengan cepat terbang diatas mereka menukik tajam menuju kawasan segitiga Bermuda. Objek itu seperti sengaja menceburkan diri ke lautan kawasan segitiga bnermuda dan lenyap begitu saja. Si pilot segera menghubungi markasnya melalui radio komunikasi, namun radar di markas tidak menangkap objek lain selain pesawat mereka. Lalu bagaimana mereka bisa menghilang begitu saja seolah-olah mereka tidak pernah ada? Apakah ada jawaban logis untuk penghilanganan aneh ini? Sayangnya kasus ini tidak dipublikasi, pihak penerbangan seperti sengaja menutup rapat peristiwa ini. Cerita ini kemudian hanya diceritakan dari mulut ke mulut.
Segitiga Bermuda akan selalu menjadi misteri seperti halnya UFO. Mungkin ketika semua fakta dan dokumen rahasian tentang UFO disebarkan oleh pemerintah maka kita akan mengerti jika memang ada hubungan antara keduanya. Sampai saat itu, keduanya akan selalu menjadi pertanyaan yang tidak bisa terjawab. Ada beberapa laporan tentang menghilang atau munculnya UFO di kawasan segitiga bermuda, namun anehnya tidak pernah sampai ke permukaan atau dimuat oleh media. Mungkin ada kehidupan di tempat lain yang mungkin lebih baik dari apa yang kita miliki di bumi ini dikawasan tersebut. Kita hanya bisa menunggu untuk melihat apa yang terjadi di masa depan.
Hilangnya Predikat Pluto Sebagai Planet di Tata Surya
Mulai 24 Agustus 2006, jangan pernah mengucapkan Planet Pluto karena sejak saat itu, Pluto sudah tidak lagi berhak menyandang predikat sebagai planet.
Sidang Umum Himpunan Astronomi Internasional (International Astronomical Union/IAU) Ke-26 di Praha, Republik Ceko, yang berakhir 25 Agustus, menghasilkan keputusan bersejarah dalam dunia astronomi dengan mengeluarkan Pluto dari daftar planet-planet di Tata Surya kita. Mulai sekarang, anggota Tata Surya hanya terdiri dari delapan planet, yakni Merkurius, Venus, Bumi, Mars, Jupiter, Saturnus, Uranus, dan Neptunus.
Keputusan mengeluarkan Pluto yang sudah menjadi anggota Keluarga Planet Tata Surya selama 76 tahun merupakan konsekuensi ditetapkannya definisi baru tentang planet. Resolusi 5A Sidang Umum IAU Ke-26 berisi definisi baru itu.
Dalam resolusi tersebut dinyatakan, sebuah benda langit bisa disebut planet apabila memenuhi tiga syarat, yakni mengorbit Matahari, berukuran cukup besar sehingga mampu mempertahankan bentuk bulat, dan memiliki jalur orbit yang jelas dan “bersih” (tidak ada benda langit lain di orbit tersebut).
Definisi tersebut adalah definisi universal pertama tentang planet sejak istilah planet dikenal di kalangan astronom, bahkan sebelum era Nicolaus Copernicus yang tahun 1543 membuktikan Bumi adalah salah satu planet yang berputar mengelilingi Matahari.
Dengan definisi baru tersebut, Pluto tidak berhak menyandang nama planet karena tidak memenuhi syarat yang ketiga. Orbit Pluto memotong orbit planet Neptunus sehingga dalam perjalanannya mengelilingi Matahari, Pluto kadang berada lebih dekat dengan Matahari dibandingkan Neptunus.
PLANET KERDIL
Pluto kemudian masuk dalam keluarga baru yang disebut planet kerdil atau planet katai (dwarf planets). Keluarga ini beranggotakan Pluto dan benda-benda langit lain di Tata Surya yang mirip dengan Pluto, termasuk di dalamnya asteroid terbesar Ceres, satelit Pluto, Charon, dan beberapa benda langit lain yang baru saja ditemukan.
Menurut Direktur Observatorium Bosscha di Lembang, Jawa Barat, Dr Taufiq Hidayat, keputusan Sidang Umum IAU tersebut adalah puncak perdebatan ilmiah dalam astronomi yang sudah berlangsung sejak awal 1990-an lalu. Perdebatan tersebut dipicu berbagai penemuan baru yang menimbulkan keraguan apakah Pluto masih layak disebut planet atau tidak.
“Karakteristik Pluto memang berbeda dengan planet-planet lainnya. Bahkan komposisi kimianya lebih menyerupai komet daripada planet,” ungkap astronom yang mendalami bidang ilmu-ilmu planet ini.
Selain itu, perkembangan teknologi teleskop juga membawa pada penemuan berbagai benda langit yang masuk dalam kelompok Obyek Sabuk Kuiper (Kuiper Belt Object/KBO). Sabuk Kuiper sendiri adalah sebutan untuk wilayah di luar orbit planet Neptunus hingga jarak 50 Satuan Astronomi (SA/1 Satuan Astronomi = jarak rata-rata Matahari-Bumi, yakni sekitar 149,6 juta kilometer) dari Matahari.
Beberapa KBO sangat menarik perhatian karena berukuran hampir sama atau bahkan lebih besar daripada Pluto (diameter 2.300 km) dan ada yang memiliki satelit atau “bulan”. Beberapa obyek tersebut, antara lain, Quaoar (diameter 1.000 km-1.300 km), Sedna (1.180 km- 1.800 km), dan yang paling terkenal adalah obyek bernama 2003 UB313 yang ditemukan Michael Brown dari California Institute of Technology (Caltech) pada 2003 lalu. Obyek yang dijuluki Xena tersebut memiliki diameter 2.400 km, yang berarti lebih besar daripada Pluto. Xena sempat dihebohkan sebagai planet ke-10 Tata Surya.
Sejak saat itu, lanjut Taufiq, terjadi perbedaan pendapat di kalangan astronom. “Pilihannya adalah memasukkan Ceres, Charon, dan 2003 UB313 ke dalam keluarga planet sehingga jumlah planet menjadi 12, atau mengeluarkan Pluto. Akhirnya pilihan kedua yang disepakati,” tutur mantan Ketua Jurusan Astronomi Institut Teknologi Bandung ini.
Kesepakatan itu sendiri bukannya datang dengan mudah. Taufiq mengatakan, pengambilan keputusan itu bahkan dicapai dengan cara pemungutan suara di antara para anggota IAU yang hadir setelah didahului perdebatan yang sangat sengit. Empat astronom senior dari Indonesia turut serta dalam Sidang Umum IAU tersebut, yakni Jorga Ibrahim, Iratius Radiman, Suryadi Siregar, dan Ny Permana Permadi. Mereka belum bisa diwawancarai karena belum kembali di Tanah Air sampai tulisan ini dibuat.
KONTROVERSI
Keputusan melepas status planet dari Pluto tentu saja sangat mengejutkan semua pihak. “Kata ‘planet’ dan gagasan tentang planet bisa menjadi sangat emosional karena itu adalah hal yang kita pelajari sejak kita masih kanak-kanak,” ungkap Richard Binzel, profesor ilmu-ilmu planet dari Massachusetts Institute of Technology (MIT) yang menentang “pemecatan” Pluto, seperti dikutip Associated Press.
Orang paling terpukul dengan keputusan ini adalah Patricia Tombaugh (93), janda Clyde Tombaugh, ilmuwan yang menemukan Pluto pada 18 Februari 1930. “Ini sangat mengecewakan dan sangat membingungkan. Saya tidak tahu bagaimana harus menghadapi ini, rasanya seperti kehilangan pekerjaan,” tuturnya kepada AP dari rumahnya di Las Cruces, New Mexico.
Beberapa pihak memprediksi debat mengenai status Pluto tidak akan berakhir di sini. Alan Stern, ketua misi pesawat ruang angkasa NASA, New Horizon, yang diluncurkan ke Pluto, Januari lalu, mengaku merasa “malu” terhadap keputusan itu. Meski demikian, misi senilai 700 juta dollar AS dan baru akan tiba di Pluto pada 2015 itu tetap akan dilanjutkan. “Ini benar-benar sebuah definisi yang ceroboh. It’s bad science. Ini belum selesai,” ujar Stern.
Perubahan definisi planet dan keluarnya Pluto dari keluarga planet hanyalah sebuah pengingat bagi kita semua bahwa ilmu pengetahuan yang kita pahami dan kita yakini kebenarannya sekarang ini bukanlah sebuah kesimpulan final. Masih banyak kebenaran yang belum kita temukan.
Kiamat 2012 diUndur 2013
Mungkin kata Kiamat 2012 masih sangat melekat di telinga kita, ya FYI yang beredar beberapa waktu lalu. Terlepas dari ramalan suku maya ataupun penelitian yang dilakukan oleh para ahli dibidangnya informasi Kiamat 2012 memang merebak kemana-mana. Namun belakangan di beberapa media santer diinformasikan bahwa Kiamat 2012 diundur satu tahun jadi kiamat 2013.
Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional atau yang lebih dikenal dengan LAPAN memperkirakan puncak siklus badai matahari bukan terjadi pada 2012, namun peristiwa yang sering dikait-kaitkan dengan hari kiamat itu bakal terjadi pada Oktober 2013. Demikian kesimpulan tersebut disampaikan Kepala Bidang Aplikasi Geomagnet dan Magnet Antarika Lapan Clara Yono Yantini pada sosialisasi mengenai Fenomena Cuaca Antariksa 2012 hingga 2015 di Kampus Universitas Udayana, Jl Sudirman, Denpasar, Selasa (9/3/2010). Sosialisasi ini dihadiri puluhan ilmuwan dari Asia Tenggara, Jepang dan Rusia.
Lapan menjelaskan badai matahari akan mundur pada 2013 karena hingga saat ini belum menemukan tanda-tanda adanya aktivitas matahari yang ekstrim sebagai puncak siklus. Siklus matahari terjadi rata-rata sekitar 11 tahun. Siklus ini menunjukkan adanya masa awal, puncak dan akhir siklus. Saat ini, matahari sedang mengalami siklus ke-24. Saat, puncak aktivitas matahari terjadi ledakan besar di matahari.
Efek aktivitas puncak matahari ini akan menyebabkan terjadinya perubahan iklim bumi yang signifikan. Suhu bumi akan meningkat dan iklim berubah. Partikel-partikel matahari yang menembus lapisan atmosfer bumi akan mempengaruhi cuaca dan iklim bumi. Dampak yang paling ekstrim menyebabkan kemarau panjang. Clara said "Ini yang masih dikaji para peneliti".
Langganan:
Postingan (Atom)


